top of page

Temu Ilmiah IPLBI 14 Bali: Merajut Pengetahuan, Budaya, Teknologi, dan Kolaborasi untuk Membangun Negeri

7 jam yang lalu
7 menit membaca

Denpasar, Bali — Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) kembali menyelenggarakan Temu Ilmiah IPLBI 14 di Denpasar, Bali. Rangkaian kegiatan berlangsung ada 2–5 September 2026, dengan agenda utama Temu Ilmiah pada 3–5 September 2026. Tahun ini, TI IPLBI mengangkat tema “Kecerdasan Budaya untuk Lingkungan Binaan berkelanjutan: Kecerdasan Buatan, Konteks Lokal, dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan”.


Tema tersebut menjadi pijakan untuk mempertemukan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan kebudayaan, lokalitas, serta tantangan pembangunan berkelanjutan. Melalui Temu Ilmiah, IPLBI mempertemukan peneliti, akademisi, praktisi, organisasi profesi, pemerintah, dan mahasiswa dalam satu ruang untuk bertukar pengetahuan mengenai masa depan lingkungan binaan Indonesia.


Penyelenggaraan TI IPLBI 14 di Bali juga menunjukkan semangat kolaborasi lintas perguruan tinggi dan organisasi profesi. Program Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana menjadi tuan rumah, didukung jejaring perguruan tinggi di Bali, antara lain Universitas Warmadewa, Universitas Ngurah Rai, Institut Desain dan Bisnis Bali, dan Universitas Dwijendra, serta organisasi dan institusi profesi seperti IAI Provinsi Bali, HDII Bali, dan Museum Bali.


Kolaborasi ini penting bagi IPLBI. Temu Ilmiah tidak hanya menjadi pertemuan tahunan organisasi, tetapi menjadi ruang bersama yang mempertemukan pengetahuan dari berbagai institusi dan wilayah. Model kolaborasi tersebut sejalan dengan misi IPLBI untuk mengembangkan komunikasi antaranggota dan organisasi terkait serta mengakumulasi pengetahuan secara kolektif, kolaboratif, multiperspektif, dan sinergis.


2–3 September 2026: Mengawali Temu Ilmiah dengan Mengalami Ruang

Rangkaian kegiatan diawali melalui Masterclass Fenomenologi bertajuk “Mengalami dan Memaknai Lapangan Puputan Badung: Pengantar Disposisi Fenomenologis.”


Masterclass menghadirkan Prof. Ir. Sudaryono, M.Eng., Ph.D., IPU. dari Universitas Gadjah Mada dan Prof. Dr. Ir. Anak Agung Ayu Oka Saraswati, M.T. dari Universitas Udayana. Kegiatan merupakan bagian dari rangkaian pembelajaran fenomenologi sebanyak 26 JP yang telah dimulai sebelumnya melalui kelas daring.


Tahap pertama berlangsung pada Rabu, 2 September 2026, pukul 15.00–18.00 WITA di Lapangan Puputan Badung. Peserta melakukan pengambilan data dan survei langsung dengan pengantar mengenai situasi lapangan serta proses membangun pengalaman terhadap ruang.


. Masterclass Fenomenologi yang dilaksanakan pada 2–3 September 2026 tidak berhenti sebagai kegiatan pembelajaran metode penelitian. Proses mengalami dan memaknai Lapangan Puputan Badung justru membuka pemikiran mengenai kedudukan ruang terbuka dalam kehidupan kota. Melalui pengamatan langsung, refleksi, dan pendalaman fenomenologis, ruang terbuka dipahami sebagai ruang yang mempertemukan aktivitas masyarakat, sejarah, ingatan kolektif, kebudayaan, serta hubungan warga dengan kotanya. Dari proses tersebut muncul potensi pengembangan gagasan “Dari Denpasar Menuju Indonesia” sebagai salah satu sumbangan pemikiran IPLBI bagi pembangunan lingkungan binaan Indonesia.


Gagasan tersebut akan dikembangkan secara bertahap. Tahap pertama berupa pendalaman kembali Lapangan Puputan Badung berdasarkan temuan Masterclass. Hasilnya selanjutnya diarahkan menjadi buku yang merekam proses, temuan, dan pemaknaan terhadap ruang terbuka. Pengetahuan tersebut kemudian diharapkan dapat menjadi landasan untuk merumuskan gagasan kebijakan mengenai “Ibu Ruang Terbuka” pada setiap ibu kota provinsi, kabupaten, dan kota di Indonesia.


“Ibu Ruang Terbuka” tidak dimaksudkan sebagai model ruang yang seragam. Setiap daerah memiliki sejarah, budaya, lingkungan, karakter ruang, dan kehidupan masyarakat yang berbeda. Karena itu, gagasan ini perlu dilengkapi dengan rumusan teknis agar dapat diterjemahkan dan diterapkan sesuai konteks masing-masing daerah. Tahap selanjutnya adalah membangun dukungan serta kolaborasi dengan pemerintah, perguruan tinggi, organisasi profesi, komunitas, dan lembaga terkait. Dengan demikian, Masterclass bergerak dari pengalaman menuju pengetahuan, dari pengetahuan menuju kebijakan, dan dari Denpasar menuju Indonesia—sejalan dengan semangat IPLBI mendorong penelitian lingkungan binaan yang berdampak nyata bagi bangsa.


3 September 2026: Memperluas Cara Membangun Pengetahuan

Rangkaian kegiatan pada 3 September memperlihatkan bahwa pengembangan penelitian lingkungan binaan membutuhkan beragam pendekatan. Selain fenomenologi, rangkaian TI IPLBI 14 juga menghadirkan pembelajaran mengenai Artificial Intelligence dan komunikasi visual dalam penelitian.


Rangkaian pengembangan kapasitas TI IPLBI 14 juga menghadirkan Masterclass Artificial Intelligence bertajuk “CENTAUR: Menuju Kolaborasi Masa Depan antara AI dan Manusia.” Masterclass menghadirkan Anastav Anantha, S.T., M.T. dan Gde Bagus Anom Wicaksana, S.T., M.T. sebagai narasumber, dengan Tjok Gde Wira Satya Nugraha, S.Ars. sebagai moderator.


Masterclass mengangkat perubahan relasi manusia dan Artificial Intelligence dalam proses kerja masa depan. AI tidak ditempatkan sebagai teknologi yang mengambil alih peran manusia, melainkan sebagai mitra yang dapat memperluas kemampuan manusia dalam mengolah informasi, mengeksplorasi kemungkinan, meningkatkan produktivitas, dan mengembangkan proses kreatif. Karena itu, persoalan utama bukan lagi memilih antara manusia atau AI, tetapi bagaimana membangun kolaborasi manusia–AI secara kritis dan bertanggung jawab.


Gagasan Centaur memperkuat tema besar TI IPLBI 14, Cultural Intelligence for Sustainable Built Environment. Kemajuan teknologi perlu berjalan bersama kemampuan manusia dalam memahami konteks, budaya, nilai, dan konsekuensi setiap keputusan.

Dalam lingkungan binaan, kolaborasi tersebut membuka peluang pengembangan penelitian dan perancangan yang lebih adaptif dan inovatif, dengan manusia tetap memegang peran penting dalam menentukan tujuan, memberikan makna, melakukan penilaian, dan mempertanggungjawabkan keputusan.


Rangkaian kegiatan lain ialah Visual note yang diperkenalkan sebagai bagian dari proses penelitian yang membantu peneliti merekam, menelusuri, mengorganisasi, dan mengomunikasikan gagasan. Pendekatan ini memperluas cara peneliti lingkungan binaan membaca hubungan antara data, ruang, pengalaman, dan temuan penelitian.

Narasumber yang dihadirkan ilaha Dr. Ar. Defry Agatha A., S.T., M.T., IAI dan Dr. Ir. Ar. Anityas Dian S., S.T., M.T., IAI, dengan Ar. Antonius Karel M., S.T., M.T., Ph.D., IAI sebagai moderator.


Rangkaian Visual Note dalam Penelitian dilanjutkan dengan kegiatan Susur Tukad Badung, yang membawa peserta mengamati secara langsung kehidupan di sepanjang koridor sungai. Peserta diajak merekam ruang melalui sketsa, catatan, kata kunci, dan temuan visual untuk mengenali hubungan antara sungai, bangunan, aktivitas masyarakat, serta karakter kawasan. Susur ini menempatkan visual note bukan hanya sebagai teknik menggambar, tetapi sebagai cara menelusuri dan memahami ruang.


Pengamatan langsung membantu peserta menangkap detail yang kerap terlewat dalam dokumentasi biasa. Dari Tukad Badung, proses melihat, mencatat, dan merefleksikan kembali temuan menjadi bagian penting dalam membangun pengetahuan tentang lingkungan binaan secara lebih kontekstual dan komunikatif.


Beragam kegiatan pengembangan kapasitas tersebut memperlihatkan satu benang merah: penelitian lingkungan binaan perlu terus terbuka terhadap perkembangan metode, teknologi, serta cara-cara baru dalam membaca dan mengomunikasikan pengetahuan.


3–5 September 2026: Pameran Karya sebagai Ruang Diseminasi dan Pertemuan Pengetahuan

Sepanjang pelaksanaan Temu Ilmiah, Pameran Poster Karya Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat menjadi bagian penting dari rangkaian TI IPLBI 14.


Pameran menghadirkan hasil penelitian, pengabdian kepada masyarakat, inovasi desain, serta praktik terbaik dalam bidang arsitektur, interior, perencanaan wilayah dan kota, teknik sipil, arsitektur lanskap, dan disiplin lain yang berkaitan dengan lingkungan binaan.

Pameran dirancang sebagai media diseminasi. Hasil penelitian tidak berhenti sebagai laporan atau publikasi akademik, tetapi dihadirkan dalam ruang bersama agar dapat dibaca, dipertukarkan, dikritisi, dan dikembangkan.


Pameran dengan demikian menjadi titik pertemuan antara penelitian, pendidikan, profesi, dan pengabdian kepada masyarakat. Kehadirannya memperkuat tujuan TI IPLBI untuk membangun jejaring pengetahuan yang tidak berhenti di lingkungan akademik.


4 September 2026: Seminar Nasional — Cultural Intelligence for Sustainable Built

Environment

Puncak Temu Ilmiah berlangsung pada 4 September 2026 di Aula Gedung Pascasarjana Universitas Udayana, Denpasar melalui Seminar Nasional TI IPLBI 14. Seminar membawa tema besar Cultural Intelligence for Sustainable Built Environment, yang mempertemukan isu Artificial Intelligence, lokalitas, kebudayaan, dan Sustainable Development Goals dalam pembicaraan mengenai lingkungan binaan masa depan.


Kegiatan dibuka oleh Gubernur Bali Wayan Koster, yang sekaligus memberikan paparan sebagai keynote speaker. Salah satu pesan penting yang disampaikan adalah perlunya menempatkan Artificial Intelligence dalam hubungan yang seimbang dengan kecerdasan manusia dan kecerdasan budaya.


Dalam konteks lingkungan binaan, perkembangan teknologi tidak dapat dilepaskan dari manusia dan tempat. Teknologi perlu membantu meningkatkan kualitas kehidupan tanpa menghilangkan identitas, nilai budaya, pengetahuan lokal, serta hubungan manusia dengan lingkungan.


Seminar kemudian dilanjutkan dengan presentasi dan diskusi hasil penelitian dari berbagai bidang lingkungan binaan. Forum ini menjadi ruang pertukaran temuan, metode, pemikiran, dan pengalaman penelitian dari berbagai institusi dan wilayah Indonesia.


Dari Temu Ilmiah Menuju Kolokium: Mempertanyakan Dampak Penelitian

Rangkaian 4 September dilanjutkan melalui Kolokium IPLBI 2026 bertema “Peran Peneliti Lingkungan Binaan dalam Menjawab Masalah Bangsa: Dari Riset Menuju Dampak.”


Kolokium membawa Temu Ilmiah menuju pertanyaan yang lebih mendasar. Penelitian tidak hanya dinilai dari apa yang dihasilkan, tetapi juga dari dampak yang dapat diberikan kepada masyarakat dan bangsa.


Forum ini dirancang untuk menghimpun refleksi para tokoh dan peneliti IPLBI mengenai peran, sikap, dan kontribusi organisasi terhadap persoalan bangsa. Kolokium juga diarahkan untuk merumuskan posisi kolektif IPLBI, mengidentifikasi agenda riset prioritas, serta memperkuat jaringan peneliti dari berbagai disiplin, institusi, dan wilayah.

Pembahasan menempatkan lingkungan binaan dalam berbagai persoalan strategis Indonesia, mulai dari ketertinggalan ilmu pengetahuan dan SDM riset, kesenjangan ekonomi, kesehatan lingkungan, rendahnya dampak penelitian, transformasi digital dan AI, krisis energi dan transisi hijau, kesenjangan wilayah, hingga erosi identitas budaya dan seni lokal.


Dalam konteks tersebut, IPLBI memposisikan dirinya sebagai akselerator pengetahuan, jembatan antara riset dengan kebijakan dan praktik, pemerata akses pengetahuan lintas wilayah, pelopor integrasi teknologi digital dalam penelitian, sekaligus penjaga warisan arsitektur dan kearifan lokal.


Carta IPLBI: Menegaskan Posisi dan Komitmen Organisasi


Kolokium kemudian bermuara pada perumusan Carta IPLBI.


Carta dirancang sebagai pernyataan kolektif organisasi mengenai identitas IPLBI, masalah bangsa yang menjadi kepedulian, peran organisasi dalam ekosistem riset dan pembangunan, sikap dan prinsip etis, komitmen konkret, serta kemitraan yang perlu dibangun untuk memperbesar dampak.


Sidang pleno perumusan Carta berlangsung setelah dua sesi panel dan diskusi bersama.

Pada malam hari, rangkaian dilanjutkan dengan jamuan kebersamaan, pembacaan Carta IPLBI, serta penandatanganan sebagai bentuk komitmen bersama.

Carta menjadi penting karena membawa hasil diskusi Temu Ilmiah melampaui forum akademik. Pengetahuan diarahkan menuju sikap, posisi, agenda, dan tindakan organisasi.


5 September 2026: Belajar Langsung dari Arsitektur dan Kebudayaan Bali

Hari terakhir membawa peserta keluar dari ruang seminar melalui kegiatan field trip arsitektur dan budaya Bali.


Kegiatan lapangan menjadi penutup yang relevan dengan tema Cultural Intelligence. Setelah mendiskusikan teknologi, penelitian, lokalitas, dan keberlanjutan, peserta diajak kembali membaca lingkungan binaan melalui tempat yang sesungguhnya.


Arsitektur dipahami tidak hanya sebagai objek fisik. Ruang merupakan bagian dari sejarah, sistem sosial, tradisi, nilai, pengetahuan, dan kehidupan masyarakat.


Dengan demikian, rangkaian TI IPLBI 14 bergerak secara utuh: mengalami ruang, membangun pengetahuan, mendiseminasikan karya, mempertukarkan hasil penelitian, merumuskan posisi organisasi, hingga kembali belajar langsung dari tempat dan kebudayaan.


IPLBI: Pengetahuan Lingkungan Binaan untuk Membangun Negeri

Keseluruhan rangkaian Temu Ilmiah IPLBI 14 bermuara pada visi yang sejak awal menjadi landasan IPLBI, yaitu menjadi organisasi yang memberikan kontribusi dan berperan sebagai pemercepat perwujudan lingkungan binaan Indonesia yang lebih manusiawi, adil, produktif, dan berkelanjutan.


Visi tersebut dijalankan melalui pengembangan wadah komunikasi dan interaksi, pengembangan pengetahuan lingkungan binaan, akumulasi pengetahuan secara kolektif dan multiperspektif, serta penyebarluasan pengetahuan agar memberikan manfaat lebih luas.


Penyelenggaraan TI IPLBI 14 di Bali menjadi salah satu bentuk nyata dari visi tersebut. Perguruan tinggi berkolaborasi, organisasi profesi terlibat, peneliti bertemu, mahasiswa belajar, karya dipamerkan, teknologi didiskusikan, kebudayaan menjadi sumber pengetahuan, dan penelitian diarahkan untuk menjawab persoalan bangsa.


Membangun negeri dalam perspektif lingkungan binaan karena itu bukan hanya membangun fisik. Membangun negeri berarti membangun pengetahuan, meningkatkan kualitas manusia, merawat kebudayaan, menjaga lingkungan, memperkuat jejaring, serta memastikan bahwa hasil penelitian dapat memberi manfaat bagi kehidupan masyarakat.


Dari Bali, Temu Ilmiah IPLBI 14 kembali menegaskan perjalanan tersebut: dari lokalitas menuju pengetahuan, dari pengetahuan menuju kolaborasi, dan dari riset menuju dampak bagi Indonesia.


Sebagaimana semangat yang mengemuka dalam Kolokium IPLBI 2026:

“Pengetahuan yang tidak berdampak adalah pengetahuan yang belum selesai. IPLBI hadir untuk memastikan riset lingkungan binaan berdampak nyata bagi bangsa.”

Komentar


bottom of page