Apakah Saya Mengajar untuk Mendidik, atau Supaya Disukai?
Prof. Dr. Purnama Salura, Ir., M.T., MBA, Staf Pengajar Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan, email: purnama.salura@unpar.ac.id
Beberapa hari ini saya dipaksa untuk duduk manis berisitriahat karena flu menyerang
Tapi ambil hikmahnya saya jadi bisa membaca buku Jonathan Haidt, The Anxious Generation¹.
Mbah Haidt merupakan profesor psikologi sosial yang banyak menelititentang moral psychology dan perubahan perilaku generasi digital.
Salah satu gagasannya sangat mengganggu sekaligus mencerahkan saya.
Katanya generasi smartphone itu, tidak tiba-tiba menjadi generasi yang cemas.
Mereka pelan-pelan tapi pasti melatih otaknya untuk cemas melalui pola penggunaan digital yang berulang. Melatih otak untuk cemas?
Cerita macam apa ini?
Yang bermasalah ternyata bukan HP sebagai benda.
Melainkan cara menggunakan HP.
Konon nih, setiap rasa bosan langsung mereka respons mbuka layar HP
Setiap ada rasa sepi mereka isi dengan ada notifikasi.
Setiap ketidaknyamanan langsung diredam dengan scrolling.
Jadi tanpa sadar otak mereka dilatih untuk hidup dalam mode reaktif.
Selalu waspada, cari stimulasi, takut ketinggalan (fomo).
Lama-lama kecemasan mereka bukan lagi sekadar emosi sesaat.
Tapi jadi suatu pola respons.
Saat mbaca bagian ini, saya terpaku, berenti cukup lama.
Lalu saya bertanya pada diri sendiri.
Apakah pola serupa bisa terjadi juga dalam dunia lain?
Refleksi saya mengarah pada dunia pendidikan.
khususnya relasi saya sebagai pengajar dengan mahasiswa.
Lalu muncul pertanyaan yang cukup bikin kepala pening.
Mungkin nggak sih, saya sebagai dosen juga, tanpa sadar nih,
sedang melatih diri menjadi approval dependent?⁵
Bukan cemas seperti yang dibahas Mbah Haidt sih.
Tapi tentang punya ketergantungan yang besar pada:
penerimaan, pujian, dan validasi dari mahasiswa.
Saya mencoba jujur pada diri sendiri.
Awalnya niat saya rasanya baik.
Saya ingin dekat dengan mahasiswa.Nggak inginlah menjadi dosen yang kaku atau otoriter.Saya ingin menciptakan suasana belajar menyenangkan.Inginnya sih, mahasiswa nyaman untuk bertanya dan berdiskusi.
Semua itu so far rasanya baik-baik saja.
Namun perlahan saya melihat bisa terjadi pergeseran yang sangat halus.
Pertanyaan saya yang semula:
Apa yang terbaik untuk pembelajaran?
pelan-pelan bisa berubah menjadi:
Apa yang membuat mahasiswa menyukai saya?
Di sini ini nih, orientasi saya mulai nggeser.
Tanpa sadar, saya mulai menilai diri saya melalui mata mahasiswa.
Ketika mahasiswa senang, saya merasa berhasil.Ketika mahasiswa memuji, saya merasa divalidasi.Ketika mahasiswa berkata dosen ini pintar nih.
Atau dosen ini enak nih, saya langsung merasa aman.
Rasanya sih nggak ada yang salah dengan diapresiasi.
Dan saya sadar, disukai mahasiswa sebenarnya bukan masalah.Bahkan itu bisa jadi buah dari suatu pedagogi yang sehat.Masalah mulai muncul ketika saya membutuhkan rasa disukai ituuntuk merasa aman, merasa berharga, atau merasa berhasil.
Apresiasi pelan-pelan berubah menjadi kebutuhan psikologis.
Nah ketika itu terjadi, saya jadi mulai
menghindari hal-hal yang berpotensi mengurangi approval.
Contohnya nih: saya nggak mau memberi kritik tajam
Saya ogah negur kesalahan mendasar
Saya juga mulai nggak mempertahankan lagi standar yang tinggi
Dan saya enggan banget kalo diajak kalibrasi sistem pembelajaran
Kenapa?
Karena semua itu berisiko menimbulkan discomfort.Tapi saya juga sadar, saya nggak sedang memujikelas yang menakutkan atau dosen yang keras tanpa empati.Kelas yang terlalu menekan juga bisa mematikan keberanian belajar.Yang saya maksud itu:pertumbuhan sering membutuhkan discomfort yang terkalibrasi.Terlalu nyaman bisa bikin stagnan.Terlalu tertekan bisa jadi shutdown.Belajar yang sehat sering justru berada di antara keduanya.³
Memahami sesuatu yang sulit nggak selalu nyaman.Dikoreksi itu, nggak selalu menyenangkan.Menyadari kelemahan diri kadang bahkan menyakitkan.
Tetapi justru melalui proses itulah pertumbuhan terjadi.
Jika saya terlalu takut membuat mahasiswa tidak nyaman,
ada risiko besar pendidikan bergeser.
Dari proses pembentukan…
menjadi transaksi kenyamanan.
Sekali lagi, saya bukan anti kenyamanan.Rasa aman tetap penting dalam pembelajaran.Tapi masalah muncul ketika kenyamananberubah dari sarana belajar, menjadi tujuan utama belajar.
Mahasiswa memberi approval. Saya memberi comfort.
Terjadi barter yang sangat halus: Saya tidak akan terlalu menekan kalian,
dan kalian tetap menyukai saya.
Edan-tenan kan? di sini, yang hilang bukan sekadar disiplin.
Yang hilang ialah esensi pedagogi.
Karena mengajar itu pada dasarnya bukan performance buat dikagumin.
Mengajar bukan sekadar tampil pintar, tampak keren, atau terdengar menyenangkan.
Mengajar merupakan proses membentuk⁴.
Dan proses membentuk kadang menuntut: friksi, ketegangan, koreksi, bahkan resistensi
Refleksi saya ini sampai pada pertanyaan yang lebih dalam.
Mungkin tantangan generasi sekarang itu,
bukan hanya anxious generation di kalangan mahasiswa.
Bisa jadi saya sebagai pendidik pun berisiko menjadi rapuh.Kenapa? Karena ketika rasa aman saya makin bergantungpada penerimaan mahasiswa, toleransi saya terhadap kritik,penolakan, dan ketidaksukaan pun perlahan lambat laun jadi kecil.Di situlah kerapuhan mulai tumbuh.Pelan-pelan saya bisa menjadi fragile educator.
Karena terlalu bergantung pada validasi eksternal.
Saya sadar istilah ini keras banget buat saya.
Tetapi justru karena keras, jadi maksa saya bertanya:
Apakah saya masih cukup berani mengatakan sesuatu yang perlu dikatakan,
meskipun tidak selalu menyenangkan?
Apakah saya masih cukup sehat untuk menerima ketidaksukaan,
jika itu memang bagian dari proses belajar?
Ataukah saya mulai diam ajalah,
setiap kali kebenaran berpotensi mengganggu kenyamanan?
Di sinilah saya merasa perlunya recalibration.
Seperti mbah Haidt mengusulkan perlunya recalibration dalam penggunaan teknologi.
saya merasa juga perlu melakukan recalibration dalam pedagogi.
Sesekali saya perlu berhenti nih lalu bertanya:
Apakah keputusan saya ini benar-benar baik untuk pembelajaran?
Atau sebenarnya:
Saya hanya sedang berusaha agar tetap disukai?
Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan diri.
Justru ini merupakan bentuk kalibrasi diri.
Karena saya percaya, pendidik yang sehat bukan pendidik yang selalu disukai.
Pendidik yang sehat ialah yang cukup matang untuk tidak bergantung sepenuhnya pada pujian, tetapi tetap terbuka terhadap evaluasi.
Ujungnya nih, saya kembali pada satu refleksi sederhana.
Sebagaimana teknologi seharusnya melayani keberhunian manusia, dan bukan menggantikannya,
pedagogi juga seharusnya membentuk manusia dan bukan sekadar menyenangkan mereka.
Teaching should form students, not merely please them.
Catatan:
1. Jonathan Haidt dan otak yang dilatih Pernyataan bahwa generasi smartphone tidak tiba-tiba menjadi generasi yang cemas, melainkan secara perlahan melatih otaknya menuju kecemasan, merupakan rangkuman dan interpretasi saya atas tesis utama Jonathan Haidt dalam The Anxious Generation.
Haidt berargumen bahwa problem utamanya bukan smartphone sebagai benda, melainkan phone-based childhood, yaitu masa perkembangan anak dan remaja yang semakin dimediasi layar, notifikasi, dan media sosial.
Saya sengaja menekankan kata melatih karena istilah ini membantu melihat bahwa kebiasaan yang diulang perlahan membentuk pola saraf dan respons psikologis.
Reference: Haidt, J. (2024). The Anxious Generation: How the Great Rewiring of Childhood Is Causing an Epidemic of Mental Illness. New York: Penguin Press.
2. Reward loop dan approval-seeking Uraian tentang pola approval loop, di mana pujian atau penerimaan menjadi reward yang mendorong perilaku untuk diulang, merupakan perluasan analogis dari mekanisme reinforcement dalam psikologi perilaku dan literatur mengenai teknologi adiktif.
Saya sama sekali tidak bermaksud menyamakan mahasiswa dengan media sosial, tetapi menunjukkan adanya keserupaan struktur psikologis: repeated validation can create dependency. Dengan kata lain, bukan objeknya yang sama, tetapi mekanisme reinforcement-nya mirip.
Reference: Alter, A. (2017). Irresistible: The Rise of Addictive Technology and the Business of Keeping Us Hooked. New York: Penguin Press.
3. Discomfort sebagai bagian pertumbuhan belajar Pernyataan bahwa belajar hampir selalu mengandung discomfort bukan berarti pembelajaran harus keras atau menakutkan. Maksudnya, pertumbuhan intelektual sering menuntut seseorang keluar dari zona familiar menuju zona yang belum sepenuhnya dikuasai.
Dalam psikologi pendidikan, gagasan ini dekat dengan konsep Zone of Proximal Development dari Lev Vygotsky.
Reference: Vygotsky, L. S. (1978). Mind in Society. Cambridge, MA: Harvard University Press.
4. Pendidikan sebagai formation, bukan transaction
Refleksi tentang bahaya pergeseran dari formation menuju comfort transaction merupakan formulasi saya sendiri, tetapi ada kaitnnya dengan kritik Paulo Freire terhadap pendidikan yang reduktif dan transaksional. Saya menggunakan istilah formation untuk menekankan bahwa pendidikan idealnya membentuk cara berpikir, karakter, dan kapasitas reflektif, bukan sekadar menyediakan pengalaman yang nyaman atau memuaskan konsumen pendidikan.
Reference: Freire, P. (1970). Pedagogy of the Oppressed. New York: Continuum.
5. Approval dependency sebagai istilah reflektif Istilah approval dependency dalam tulisan ini bukan terminologi baku dari satu teori tertentu, melainkan istilah kerja yang saya gunakan untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang secara perlahan menjadi terlalu bergantung pada validasi eksternal untuk mempertahankan rasa aman atau rasa berharga. Dalam konteks tulisan ini, istilah tersebut saya gunakan sebagai alat refleksi diri, bukan label untuk menghakimi orang lain.
Tujuannya justru sebagai pertanyaan kalibratif: Sejauh mana keputusan saya sungguh demi pembelajaran, dan sejauh mana demi kebutuhan untuk disukai?
Komentar