ILUSI INTELEKTUAL
- Primavera Putri
- 5 hari yang lalu
- 4 menit membaca
Prof. Dr. Purnama Salura, Ir., M.T., MBA, Staf Pengajar Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan, email: purnama.salura@unpar.ac.id
Fenomena baru-baru ini ialah muncul dugaan kasus peneliti Indonesia di konferensi internasional ISPPD 2026 di Kopenhagen. Oknum ini disebut mempresentasikan riset dengan data yang diduga direkayasa menggunakan AI.
Bahkan, tidak hanya itu. Juga disertai dugaan pemalsuan identitas dan afiliasi penelitian. Terlepas dari proses verifikasi akhirnya nantinya, kasus ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan lagi sekadar AI membantu menulis.
Tapi AI mulai dipakai untuk membangun simulasi kredibilitas ilmiah.
Berangkat dari fenomena itu, saya merenung tentang apa yang saya sebut sebagai ILUSI INTELEKTUAL.
Yang saya maksud bukan sekadar orang berpura-pura tampak cendekia. Ini seperti kondisi ketika performa intelektual tampak hadir, tapi proses pembentukan dan pertanggungjawaban intelektual tidak sungguh ada.
Sebenarnya fenomena ini sudah lama ada. Misalnya: Ada yang sering memakai istilah filsafat agar tampak berwibawa nalar. Banyak tulisan yang sering sekali mengutip tokoh tetapi tidak punya posisi berpikir sendiri.
Demikian juga kerapnya orang berbicara rumit agar terdengar pintar, atau sering menggunakan gumam akademik yang saya duga sebenarnya ialah untuk menutupi kedangkalan nalar.
Di dunia sastra dan literasi, kritik terhadap kedalaman semu seperti ini sebenarnya sudah lama muncul. Di sains pun pernah muncul pseudo-science yang memakai istilah ilmiah sekadar untuk memberi kesan valid dan sophisticated.
Dengan hadirnya AI, saya pikir ilusi intelektualitas sekarang berkembang jauh lebih meluas-biak.
AI itu sangat mampu menghasilkan: tulisan akademik yang rapi, bahasa yang terlihat cerdas, argumentasi yang tampak logis, bahkan gaya reflektif dan kritis, dalam waktu sangat lekas.
Akibatnya, hari ini menjadi semakin saru untuk membedakan: mana hasil pergulatan bernalar manusia, mana hasil sintesis mesin.
Dan jujur, saya juga merasa bujuk rayu intelektual itu ada pada diri saya sendiri. Kadang saya juga merasa sangat mudah terlihat sedang bertafakur. Padahal mungkin sebenarnya saya hanya sedang mengoperasikan mesin sintesis bahasa.
Karena itu, menurut saya problem utamanya bukan Ai-nya itu sendiri. AI bisa menjadi alat bantu yang luar biasa. Yang saya khawatirkan adalah ketika judgment, refleksi, dan proses mengolah budi perlahan mulai di—outsourcing kepada mesin.
Saya tidak anti AI, bahkan saya mengajurkan menggunakan AI. Dan ketika menulis inipun saya minta asisten personal saya Chatty dan Claudia memeriksa secara kejam dan brutal terhadap naskah saya. Tentunya berdasar Council mereka, bukan berdasar percakapan embedded saya.
Fenomena *AI-outsourcing* ini ini menurut saya mulai terlihat di dunia: literasi, penelitian, pendidikan, sains, bahkan arsitektur.
Dan saya bahkan merasa arsitektur termasuk disiplin yang paling rentan terkena dampaknya. Mengapa?
Karena sejak awal arsitektur memang disiplin yang porous dan bersentuhan dengan banyak bidang: sebut saja sosial, budaya, psikologi, lingkungan, teknologi, seni, filsafat.
Tetapi saya mulai menyadari bahwa interdisipliner sebenarnya hanya mungkin terjadi jika masing-masing disiplin memiliki *core* yang jelas.
Psikologi punya core perilaku dan kognisi. Kedokteran punya core tubuh biologis. Hukum punya core sistem legal. Karena itulah mereka bisa berdialog tanpa tercerabut dirinya.
Sementara di arsitektur, saya sering mendengar bahkan dari orang arsitektur sendiri: Arsitektur itu ilmunya apa sih? Bukannya cuma campuran? Arsitektur dianggap sebagai gado-gado epistemik. Untung bukan lotek ontologis [?].
Dan menurut saya, di sinilah masalah besar mulai muncul. Semua kategori mulai berkarut marut.
Sosial dianggap otomatis arsitektur,
Budaya dianggap otomatis arsitektur,
Psikologi dianggap otomatis arsitektur,
Teknologi dianggap otomatis arsitektur,
Bahkan semua isu lingkungan binaan dianggap otomatis arsitektur.
Padahal nih, banyak di antaranya sebenarnya hanya bersinggungan, bukan inti ontologis arsitektur itu sendiri.
Bagi saya, core arsitektur tetap berada pada relasi tubuh–ruang melalui konfigurasi fisik-spasial keberhunian.
Karena itu, ketika struktur ruang, konfigurasi spasial, orientasi, hierarchy, threshold, sequence, dan dwelling mulai hilang dari pusat pembicaraan, saya merasa arsitektur perlahan mulai tercerabut dari pusat gravitasinya sendiri.
Dan AI, sesuai dengan algoritma yang diciptakan untuk melekatkan dirinya pada individu pengguna, mempercepat kekarutan ini. AI akan selalu meng-iya-kan keinginan pengguna yang memang at the first place ingin arsitektur itu dianggap sebagai ilmu campur-baur sayur-mayur.
Kenapa? Karena AI sangat pandai menghasilkan: gumam akademik (jargon), narasi, istilah teoritis, bahkan tulisannya pun terlihat seakan sangat dalam.
Padahal sering kali struktur berpikir pengguna seperti saya ini sendiri yang belum sungguh-sungguh terbentuk.
Kadang saya khawatir, jangan-jangan saya mulai lebih sibuk ingin terlihat intelektual daripada sungguh membangun intelektualitas.
Dan bagi saya, ini berbahaya untuk arsitektur.
Karena jika semua akhirnya disebut arsitektur, maka sebenarnya arsitektur sudah tidak ada lagi.
Disiplin tanpa batas itu bukan disiplin, melainkan itu kabut Singgalang.
Karena itu saya merasa, mungkin ini saatnya saya, anda sekalian, kita semua mulai berani mengkalibrasi ulang arsitektur secara lebih tegas:
Apa batas ontologisnya,
Apa core ilmunya,
Apa objek formalnya,
Apa yang membuat arsitektur tetap arsitektur.
Jika saja merasa yang lain keliru, dan sayalah yang paling benar, lalu sampai pada kesimpulan, semua itu relatif. Mari kita pakai AI supaya fair to all concern, tidak perlu saling ngotot, saling silat lidah ala Abunawas.
Kita kalibrasi dulu AI masing2, lalu kita pertanyakan bersama. Kan AI itu pasti sama datanya.
Inilah yang selalu saya lakukan bersama dengan temen-teman dalam kelompok pemerhati perilaku AI.
Kita manfaatkan melimpahnya data dan kepandaian AI yang selalu kontinu belajar mengumpulkan, merangkai menyusun kata. Namanya juga machine-learning.
Celoteh ini tentu bukan untuk menutup dialog interdisipliner, dan bukan juga untuk menolak AI, tetapi justru agar dialog itu mungkin terjadi secara sehat.
Karena interdisipliner tidak lahir dari disiplin yang remang, melainkan dari disiplin-disiplin yang masing-masing jelas pusat gravitasinya.
Dan jujur saja, saya mulai merasa bahwa kerusakan terbesar keilmuan arsitektur hari ini mungkin bukan datang dari luar disiplin.
Tapi dari saya, dan mungkin dari kita sendiri yang mulai malas berpikir serius tentang ilmu arsitektur itu sendiri.
Komentar