Penelitian Arsitektur Tanpa Arsitektur
- Prof. Dr. Purnama Salura, Ir., M.T., MBA
- 14 Mei
- 6 menit membaca
Prof. Dr. Purnama Salura, Ir., M.T., MBA, Staf Pengajar Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan, email: purnama.salura@unpar.ac.id
Akhir-akhir ini, saya semakin sering menjumpai penelitian arsitektur yang bergerak sangat luas. Seringnya berbicara tentang perilaku manusia, dinamika sosial, kenyamanan lingkungan, hingga makna yang bersifat filosofis. Pendekatannya beragam, referensinya kaya, dan dalam banyak kasus terasa meyakinkan.
Namun justru saya merasa perlu berhenti sebentar. Sebagai kontrol diri, saya mengajukan satu pertanyaan sederhana, tetapi mendasar: di mana posisi arsitekturnya dalam cara membaca tersebut? Dan lebih jauh lagi: apakah pembacaan itu masih dapat kembali menjadi arsitektur? Apakah bermanfaat untuk keilmuan arsitektur itu sendiri?
Saya memahami bahwa arsitektur tidak pernah berdiri sendiri. Arsitektur selalu berelasi dengan sosial, psikologi, lingkungan, hingga budaya. Pemikiran Christian Norberg-Schulz tentang genius loci, serta Juhani Pallasmaa yang menekankan pengalaman tubuh dalam ruang, menunjukkan hal tersebut dengan sangat kuat. Bahkan Bill Hillier memperlihatkan bahwa relasi sosial pun dapat dibaca melalui konfigurasi ruang.
Masalahnya bukan di situ.
Masalahnya muncul ketika relasi itu tidak lagi kembali.
Esai ini berangkat dari satu posisi yang ingin ditegaskan secara eksplisit: persoalan utama penelitian arsitektur hari ini bukan pada keluasan topik, melainkan pada pergeseran objek formalnya. Dalam banyak kasus, arsitektur memang masih hadir, tetapi hanya sebagai objek material. Ia tidak lagi menjadi dasar cara membaca. Ia hadir, tetapi tidak bekerja. Di sini, terjadi pergeseran yang sangat halus. Namun sangat menentukan: arsitektur berubah dari cara berpikir, menjadi sekadar objek ilustrasi. Jika ini dibiarkan, maka apa pun bisa disebut arsitektur, tanpa harus benar-benar dibaca sebagai arsitektur.
Karena itu, posisi objek formal arsitektur perlu dirumuskan kembali secara operasional. Bukan untuk membatasi, tetapi justru untuk menjaga.
Objek formal arsitektur bukan sekadar ruang sebagai tempat.Objek formal arsitektur ialah konfigurasi relasi batas, orientasi, dan proporsi yang bekerja terhadap tubuh yang menghuni.
Di sini, arsitektur bukan hanya “ada”, tetapi mengondisikan.
Sejak Vitruvius hingga pendekatan kontemporer, arsitektur selalu dipahami melalui relasi bentuk, ruang, dan keterhunian. Dalam perkembangan mutakhir, KEPKA yang dirumuskan oleh Salura menegaskan bahwa arsitektur hanya dapat dipahami secara epistemik melalui konfigurasi relasi: batas, orientasi, dan komposisi ruang. Masalahnya, dalam banyak penelitian, konfigurasi ini tidak benar-benar dibaca. Konfigurasi ini langsung dilewati.
Padahal, keterlacakan arsitektur selalu bersifat operasional. Setidaknya dapat ditelusuri melalui tiga indikator minimum: Batas: bagaimana ruang dibentuk dan dilingkupi; Orientasi: bagaimana arah, bukaan, dan relasi terhadap konteks bekerja; Relasi antar ruang: bagaimana ruang terhubung dan membentuk struktur
Tanpa salah satu dari ini, arsitektur mulai kehilangan pijakannya.
Tanpa ketiganya, arsitektur tinggal nama.
Di sinilah masalah mulai tampak jelas, meskipun sering tersembunyi. Kita sering mendengar pernyataan seperti: “ruang mempengaruhi perilaku”; “arsitektur berkontribusi pada kehidupan sosial” Pernyataan ini benar.
Tetapi tidak cukup. Karena pertanyaan arsitekturalnya belum dijawab: ruang yang mana? dengan konfigurasi seperti apa? melalui mekanisme spasial apa?
Tanpa jawaban itu, arsitektur tidak sedang dijelaskan, arsitektur hanya disebut.
Ambil contoh sederhana: “ruang mendorong interaksi sosial.” Kalimat ini akan berubah bobotnya secara drastis jika dijelaskan: Apakah melalui keterbukaan tanpa sekat? Orientasi yang saling berhadapan? Atau kedekatan jarak antar fungsi?
Di sini terlihat jelas: arsitektur tidak terletak pada pernyataannya, tetapi pada struktur yang membuat pernyataan itu bekerja.
Hal yang sama terjadi dalam pembahasan makna. Heidegger berbicara tentang dwelling.
Bachelard berbicara tentang pengalaman imajinatif ruang. Keduanya sah, bahkan penting.
Namun satu pertanyaan tidak boleh hilang: apakah makna itu dapat ditelusuri kembali ke struktur ruangnya? Atau justru: makna itu datang dari luar, lalu ditempelkan?
Sebagaimana dikritik oleh Branko Mitrović, arsitektur sering menggunakan istilah filosofis tanpa memastikan keterhubungannya dengan ruang itu sendiri. Di sini, perlu dibedakan secara tegas:antara makna yang tumbuh dari ruang, dan makna yang menumpang pada ruang.
Keduanya tidak sama.
Perbedaan ini membawa kita pada satu klarifikasi penting: (1) kajian tentang arsitektur(2) kajian arsitektur itu sendiri. Kajian tentang arsitektur boleh menggunakan kerangka apa pun. Ia bisa luas, bahkan lintas disiplin sepenuhnya. Namun kajian arsitektur sebagai disiplin memiliki satu syarat yang tidak dapat dinegosiasikan: harus kembali pada konfigurasi ruang sebagai dasar pembacaannya. Tanpa itu, yang terjadi bukan lagi kajian arsitektur, melainkan kajian lain yang kebetulan menggunakan arsitektur sebagai contoh.
Menariknya, dalam studio perancangan, hal ini justru sangat ketat. Ketika seseorang mengatakan: “ruang ini nyaman,” pertanyaan langsung muncul: bagaimana orientasinya? bagaimana bukaannya? bagaimana proporsinya? bagaimana relasinya? Di studio, tidak ada klaim tanpa jejak.
Sebaliknya, dalam penelitian, jejak ini sering hilang. Pembahasan bergerak cepat ke makna,sebelum struktur ruangnya benar-benar dibaca. Akibatnya, makna berkembang, tetapi tidak selalu memiliki akar. Makna menjadi narasi yang berdiri sendiri.
Ironisnya, aspek yang paling mendasar justru yang paling sering ditinggalkan: batas, orientasi, proporsi, relasi ruang. Dianggap terlalu sederhana. Dianggap terlalu teknis. Padahal justru di situlah arsitektur bekerja. Le Corbusier membangunnya di situ. Aldo Rossi membacanya di situ.
Ketika lapisan ini dilewati, pembahasan memang menjadi lebih luas. Tetapi sekaligus kehilangan pijakan. Karena itu, persoalannya bukan pada interdisiplin, melainkan pada urutan dan posisinya. Disiplin lain boleh masuk.
Tetapi tidak boleh menggantikan cara membaca arsitektur itu sendiri.
Dari sini, saya mengajukan satu prinsip sederhana. namun ketat: setiap pernyataan tentang arsitektur harus dapat ditelusuri kembali pada konfigurasi ruangnya. Jika tidak, maka pernyataan mungkin benar, tetapi belum tentu arsitektural.
Dengan prinsip ini: Pembahasan sosial harus kembali pada ruang yang memfasilitasi interaksi.Pembahasan lingkungan harus kembali pada pelingkup dan aliran udara.
Pembahasan makna harus kembali pada struktur ruang yang membuatnya terbaca.
Tanpa itu, penelitian tetap bisa menarik. Tetapi tidak bisa diuji. Tidak bisa dikembangkan. Dan sulit kembali menjadi desain.
Posisi ini bukan pembatasan. Justru sebaliknya, ini adalah upaya menjaga agar arsitektur tetap memiliki pijakan ketika berhadapan dengan keluasan.
Penelitian arsitektur harus tetap terbuka.
Penelitian arsitektur harus berkembang.
Penelitian arsitketur harus berdialog dengan disiplin lain.
Tetapi ada satu hal yang tidak boleh dilepas: arsitektur sebagai cara membaca yang berpijak pada konfigurasi ruang. Tanpa keterlacakan itu, arsitektur tidak hilang, tetapi tidak lagi bekerja. Arsitektur hanya hadir sebagai objek pembicaraan, bukan sebagai cara berpikir.
Pada akhirnya, persoalannya bukan pada apa yang dibahas. Tetapi pada satu hal yang jauh lebih mendasar: apakah arsitektur masih hadir sebagai cara membaca di dalam sebuah penelitian?
Catatan Akhir:
1. Christian Norberg-Schulz
Dalam Genius Loci: Towards a Phenomenology of Architecture (1980), Norberg-Schulz menekankan bahwa arsitektur tidak dapat dilepaskan dari makna tempat (place) yang dialami manusia. Rujukan ini digunakan untuk menunjukkan bahwa relasi manusia–ruang merupakan bagian inheren dalam arsitektur, namun tetap berbasis kondisi spasial.
2. Juhani Pallasmaa
Melalui The Eyes of the Skin (2005), Pallasmaa mengkritik dominasi visual dalam arsitektur dan menekankan pengalaman tubuh secara multisensorik. Rujukan ini mendukung argumen bahwa pengalaman ruang penting, tetapi tetap harus berakar pada kondisi fisik-spasial.
3. Bill Hillier
Dalam The Social Logic of Space (1984), Hillier menunjukkan bahwa pola sosial dapat dibaca melalui konfigurasi ruang. Rujukan ini digunakan untuk menegaskan bahwa relasi sosial tidak berdiri di luar arsitektur, tetapi dapat dijelaskan melalui struktur spasial itu sendiri.
4. Vitruvius
Melalui De Architectura, Vitruvius mengenalkan salah satu dari beberapa prinsipnya ialah prinsip firmitas, utilitas, dan venustas. Rujukan ini menunjukkan bahwa sejak awal, arsitektur telah dipahami sebagai relasi antara fungsi, bentuk, dan kualitas ruang bukan sekadar wacana.
5. Purnama Salura
Dalam pengembangan kerangka KEPKA (Kerangka Epistemik Properti Komposisi Arsitektur), yang dipublikasikan dalam artikel JIB ARTEKS (2026), ditekankan pentingnya memahami arsitektur melalui relasi properti komposisi ruang meliputi batas, orientasi, dan struktur spasial sebagai dasar epistemik dalam membaca dan merancang arsitektur. Rujukan ini digunakan untuk menegaskan bahwa pembacaan arsitektur tidak berhenti pada narasi, tetapi harus memiliki keterlacakan pada konfigurasi fisik-spasial..
6. Martin Heidegger
Dalam esai Building, Dwelling, Thinking (1951), Heidegger memperkenalkan konsep dwelling sebagai cara manusia berada di dunia. Rujukan ini digunakan untuk menunjukkan bahwa pendekatan filosofis terhadap ruang sah, tetapi perlu diterjemahkan ke dalam kondisi spasial konkret.
7. Gaston Bachelard
Dalam The Poetics of Space (1958), Bachelard membahas pengalaman imajinatif manusia terhadap ruang. Rujukan ini mendukung pembacaan makna ruang, sekaligus menjadi pengingat bahwa makna tersebut bersifat interpretatif dan perlu dikaitkan dengan struktur ruang.
8. Branko Mitrović
Dalam berbagai tulisannya, termasuk Architectural Principles in the Age of Fraud (2022), Mitrović mengkritik kecenderungan penggunaan istilah filosofis dalam arsitektur tanpa pemahaman yang memadai. Rujukan ini digunakan untuk menunjukkan adanya kecenderungan metodologis dalam praktik akademik arsitektur.
9. Christopher Alexander
Dalam A Pattern Language (1977), Alexander menunjukkan bahwa kualitas ruang muncul dari pola relasi yang dapat dikenali dan diterapkan kembali. Rujukan ini menegaskan bahwa makna ruang harus memiliki dasar struktural yang dapat ditelusuri.
10. Le Corbusier
Melalui karya dan tulisannya seperti Vers une Architecture (1923), Le Corbusier menekankan pentingnya proporsi, modul, dan keteraturan dalam membentuk pengalaman ruang. Rujukan ini digunakan untuk menunjukkan bahwa aspek “dasar” justru menjadi fondasi arsitektur.
11. Aldo Rossi
Dalam The Architecture of the City (1966), Rossi menekankan pentingnya tipologi dan struktur kota dalam memahami arsitektur. Rujukan ini menunjukkan bahwa struktur dan bentuk tetap menjadi dasar dalam membaca arsitektur, bahkan dalam konteks yang lebih luas.
Komentar