ARSITEKTUR SCROLLING
- Prof. Dr. Purnama Salura, Ir., M.T., MBA
- 14 Mei
- 1 menit membaca
Prof. Dr. Purnama Salura, Ir., M.T., MBA, Staf Pengajar Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan, email: purnama.salura@unpar.ac.id
Kemarin saya duduk di sebuah kafe.Meja-meja penuh.
Tetapi banyak orang tidak benar-benar hadir.
Mata sibuk melihat layar. Jari sibuk scrolling.
Semuanya bergerak cepat.
Yang dicari selalu sama.
Sesuatu yang cukup menarik untuk menghentikan perhatian beberapa detik saja.
Lalu lewat. Scroll lagi.
Dan saya tiba-tiba berpikir…
Jangan-jangan budaya hari ini perlahan membuat kita terbiasa
perlahan menjadi budaya
Bukan untuk tinggal, tetapi untuk terus menarik perhatian.
Dan diam-diam itu masuk juga ke arsitektur.
Bangunan mulai berlomba: siapa paling berbeda,paling fotogenik,paling viral,paling mudah diingat.
Hari ini banyak bangunan ingin menjadi “ikonik.”
Tetapi ternyata ikonik pun kini memiliki dua wajah.
Ada ikon yang tumbuh perlahan menjadi simbol kolektif masyarakat.
Seperti bangunan yang menyimpan sejarah,ingatan kota,dan kehidupan bersama.
Bangunan tidak perlu berteriak.Masyarakat sudah merasa memilikinya.
Tetapi ada juga ikon yang lahir sebagai penarik atensi.
Bentuknya penuh enigma.Sengaja mengejutkan. Sengaja berbeda.Sengaja menghentikan scroll.
Yang satu hidup dalam ingatan kolektif.
Yang satu hidup dalam perhatian kolektif.
Masalahnya…perhatian manusia hari inibergerak sangat cepat.
Maka ikon-ikon baru terus bermunculan.Terus saling menggantikan.
Kadang bentuk menjadi begitu keras meminta dilihat.
Padahal tubuh manusia tidak hidup di dalam perhatian.
Tubuh hidupdi dalam ruang yang memahami ritme kehidupannya.
Mungkin karena itu,arsitektur yang matang sering tidak sibuk berteriak.
tidak panikjika tidak langsung viral.
Karena yang dikejarnya bukan sekadar perhatian mata.
Tetapi ketenangan tubuh yang akan hidup lama di dalamnya.
Yang satu lebih dekat pada attention dan desire.
Yang satu lebih dekat pada dwelling dan needs.
Dan sekali lagi anehnya…yang paling menenangkan hidup sering justrutidak banyak berteriak.
Jangan-jangan…
arsitektur hari ini
takut tidak dilihat.
Komentar