Lingkungan Binaan: Disiplin, Gabungan, atau Sekadar Koordinasi Semu?
- Prof. Dr. Purnama Salura, Ir., M.T., MBA
- 14 Mei
- 3 menit membaca
Prof. Dr. Purnama Salura, Ir., M.T., MBA, Staf Pengajar Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan, email: purnama.salura@unpar.ac.id
Beberapa waktu lalu, ada teman arsitek yang bertanya.
“Sebenarnya built environment itu apa?
Apakah sebuah disiplin ilmu?
Atau gabungan banyak disiplin?”
Pertanyaannya enteng. Tapi jawabnya…ternyata jauh dari enteng.
Kalau kita bilang disiplin, rasanya tidak klop.
Karena di situ tidak ada satu metode tunggal.
Tidak ada satu objek yang benar-benar disepakati bersama.
Tapi kalau kita bilang gabungan, juga…terasa belum nyambung.
Karena gabungan, seolah cukup dengan hanya mengumpulkan banyak bidang.
Ada arsitektur, perencanaan, teknik, kesehatan, lalu…sudah.
Selesai!
Kenyataannya? Coba bayangkan ini. Sebuah rumah dibangun.
Ada arsitek yang memikirkan ruang.Ada insinyur yang memastikan struktur berdiri.Ada aturan yang mengatur.Ada tukang yang mengerjakan.Ada pemilik yang punya kebutuhan hidup.
Semua masuk. Kalau dilihat sekilas, ini sepertinya hanya peristiwa gabung-menggabungkan.
Tapi mari kita melangkah sedikit lebih mendalam, yang terjadi sebenarnya bukan sekadar berkumpul. Semua itu harus diselaraskan.
Semua itu dipaksa untuk saling menyesuaikan.
Kebutuhan ruang tidak bisa bebas lepas begitu saja.Kebutuhan harus bertemu dengan batas struktur.Kebutuhan wajib tunduk pada aturan.Kebutuhan dipaksa mengikuti kondisi lahan.
Dan ujungnya, semuanya harus menjadi satu hal yang sangat konkret, pasti!
Ruang yang benar-benar bisa dihuni.
Di sini, kata gabungan mulai terasa ngambang, mulai terasa tidak mampu merengkuh semua kejadian.
Karena yang terjadi bukan sekadar mengumpulkan, tapi ini sudah sebuah peristiwa koordinasi.
Nah masalah sebenarnya di sini mulai menyembul muncul.
Kadang kita terlalu cepat percaya bahwa koordinasi itulah satu-satunya solusi.
Seolah-olah: semua masuk lalu berarti benar, semua terwakili itu berarti selesai, semua disepakati bisa disebut berarti berhasil
Padahal tidak.
Perihal ini sebenarnya sudah lama disadari dalam pemikiran desain. Herbert A. Simon, seorang pakar sosial penerima Nobel Ekonomi tahun 1978, misalnya, melihat desain sebagai proses menyatukan berbagai kondisi menjadi satu sistem yang dapat bekerja. Bukan sekadar memilih bentuk, tapi mengatur relasi banyak hal agar menghasilkan sesuatu yang fungsional.
Dalam arsitektur, pendekatan ini menjadi lebih konkret. Christopher Alexander menunjukkan (dalam bukunya The Nature of Order), bahwa lingkungan binaan terbentuk dari penyusunan pola-pola kebutuhan manusia menjadi konfigurasi yang dapat dihuni.
Namun di sini mulai muncul perbedaan cara pandang.
Sebagian melihat koordinasi sebagai kunci utama.
Bahwa selama semua kebutuhan sudah masuk dan diselaraskan,
maka lingkungan binaan dianggap berhasil.
Tapi seperti biasa, tidak semua pasti sepakat. Ini sudah nature manusia.
Rem Koolhaas, misalnya, seorang arsitek pendiri kantor OMA yang tenar itu, justru menunjukkan bagaimana koordinasi dalam skala besar sering kali menghasilkan ruang yang penuh sistem, tapi kehilangan kejelasan makna dan pengalaman.
Sementara Bernard Tschumi arsitek pemenang sayembara Parc De la Villette bahkan menggugat bahwa ruang tidak selalu harus stabil dan terkoordinasi secara klasik. Baginya, konflik dan ketegangan antara ruang dan aktivitas justru bisa menjadi sumber bentukan arsitektur.
Di sisi lain, pendekatan yang lebih analitis seperti Bill Hillier arsitek penemu teori space syntax, menunjukkan bahwa tanpa struktur konfigurasi yang jelas, ruang akan gagal membentuk pola gerak dan interaksi yang terbaca.
Ini menunjukkan bahwa tidak semua bentuk koordinasi menghasilkan ruang yang bekerja.
Dan di sinilah masalahnya mulai terlihat lagi.
Koordinasi bahkan sering disalahpahami sebagai hanya sebuah proses menampung semua kepentingan.
Ketika…
Semua pihak dilibatkan. Semua kebutuhan diakomodasi. Tapi hasilnya?
Ruang menjadi: tidak terbaca, tidak terarah, tidak memiliki hirarki, bahkan saling bertabrakan
Semua ada. Tapi sekaligus tidak ada yang benar-benar bekerja.
Mungkin ini sepertinya terlalu sederhana atau bahkan simplifikasi.
Tapi justru di situlah letak persoalannya.
Karena dalam lingkungan binaan, koordinasi yang sesungguhnya bukan soal memasukkan semuanya.
Koordinasi ialah soal memilih. menyaring. dan menyusun.
Sebagian harus dipertahankan. Sebagian harus ditekan. Sebagian bahkan harus dilepaskan.
Dan di situlah ruang mulai terbentuk.
Sekarang, kita bisa menjawab dengan lebih jujur.
Apakah built environment itu disiplin? Tidak sepenuhnya.
Apakah ia gabungan? Tidak sesederhana itu.
Lingkungan binaan merupakan tempat koordinasi, yang dipaksa berakhir sebagai ruang.
Tapi kita perlu sangat hati-hati.
Banyak orang berhenti di kata koordinasi. Padahal di situlah jebakannya.
Lingkungan binaan bukan koordinasinya, tapi merupakan hasilnya.
Bukan rapatnya.
Bukan kesepakatannya.
Bukan banyaknya hal yang dimasukkan.
Melainkan konfigurasi ruang yang terbentuk.
Konfigrasi yang menentukan apakah hidup bisa berjalan… atau gagal.
Ada satu hal yang perlu dan harus ditegaskan.
Lingkungan binaan tetap punya objek.
Objek materialnya jelas: segala sesuatu yang fisik–spasial yang dibangun manusia.
Tapi objek formalnya bukan tidak ada. melainkan diperebutkan antar disiplin.
Arsitektur melihatnya sebagai ruang.Kesehatan melihatnya sebagai dampak.Kebijakan melihatnya sebagai sistem.
Jadi,…masalahnya bukan banyaknya cara membaca.
Masalahnya: kita lupa memilih mana yang benar-benar membentuk ruang.
Sebeanrnya tanpa itu, Koordinasi bisa selesai. Proyek bisa berdiri. Sistem bisa berjalan.
Tapi lingkungan binaan tidak pernah benar-benar terjadi.
Di sini, kita tidak lagi kehilangan istilahnya.
Tapi Kita kehilangan ruang itu sendiri.
Dan mungkin inilah weiji kita hari ini, titik kritis. Bukan sekadar bahaya.
Tapi momen ketika kita harus memilih: memperjelas… atau membiarkan semuanya larut.
Karena jika koordinasi berubah menjadi sekadar menampung semuanya
yang tersisa bukan lingkungan binaan. hanya kumpulan keputusan tanpa ruang.
Jika semua dianggap lingkungan binaan, maka sebenarnya tidak ada lagi lingkungan binaan.
Komentar