top of page

LINGKUNGAN BINAAN SEBAGAI PANACEA: Ilusi Disiplin Tanpa Batas.

Prof. Dr. Purnama Salura, Ir., M.T., MBA, Staf Pengajar Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan, email: purnama.salura@unpar.ac.id


Tujuan tulisan:

Menggoyang pemahaman yang terlalu longgar terhadap istilah lingkungan binaan.

Membuka pertanyaan epistemik: kapan istilah ini masih bermakna, dan kapan istilah ini mulai kehilangan batasnya.


Ada satu kata yang akhir-akhir ini terasa semakin kuat, sekaligus semakin kabur: lingkungan binaan. Dan entah kenapa, saya mulai merasa kata ini menjelaskan terlalu banyak. Kata ini muncul di mana-mana. Dalam visi–misi program studi. Dalam proposal penelitian. Dalam diskusi akademik. Dan hampir-hampir selalu terdengar meyakinkan. Seolah-olah apapun yang kita hadapi, bisa dimasukkan ke dalam kata itu.

 

Lingkungan binaan hari-hari ini mulai terasa seperti panacea, obat untuk segalanya. Masalah kota? Itu lingkungan binaan. Masalah kesehatan? Itu lingkungan binaan. Masalah sosial? Itu pastinya Lingkungan binaan. Masalah teknologi? Itu juga lingkungan binaan. Seolah-olah tidak ada masalah yang tidak bisa masuk ke dalam lingkungan binaan. Awalnya terasa masuk akal. Dunia memang kompleks. Masalah memang saling terkait. Dan kita memang membutuhkan pendekatan interdisipliner. Namun saya mulai merasa ada yang tidak beres. Bukan pada kompleksitasnya, melainkan pada cara kita menyikapinya. Muncul pertanyaan sederhana yang justru semakin sulit dijawab: jangan-jangan ini bukan lagi interdisiplin? jangan-jangan kita sedang melarutkan disiplin itu sendiri?

 

Jika semua minuman disebut kopi, apakah kopi masih ada?

 

Hari-hari ini, hampir semua hal dimasukkan ke dalam lingkungan binaan. Arsitektur, perencanaan, lanskap, infrastruktur, kesehatan publik, kebijakan, bahkan sistem digital. Semua terasa relevan.Semua terasa sah. Dan justru karena itu, tidak ada lagi yang benar-benar jelas. Maka di titik ini,saya merasa perlu berhenti sejenak. Bukan untuk memperdebatkan, melainkan untuk memastikan bahwa kita tidak sedang salah langkah. Sebenarnya, istilah lingkunga binaan ini kita warisi dari mana dan dari siapa?

 

Jika ditelusuri, istilah “lingkungan binaan” merupakan terjemahan dari built environment, sebuah istilah yang berkembang dalam berbagai disiplin, dari kesehatan publik hingga perencanaan kota. Menariknya, istilah ini tidak lahir dari satu definisi yang dirumuskan secara ketat, melainkan terbentuk melalui penggunaan lintas disiplin yang terus berulang. Dan di situlah persoalannya bermula. Kita tidak hanya mewarisi istilah ini, kita juga mewarisi cara memakainya. Dan mungkin, tanpa sadar kita ikut memperluasnya. Sedikit demi sedikit.

 

Dalam berbagai rujukan internasional, seperti yang digunakan oleh lembaga kesehatan dan perencanaan, built environment secara konsisten merujuk pada lingkungan yang dibentuk atau dimodifikasi manusia sebagai tempat berlangsungnya kehidupan. Lingkungan binaan mencakup bangunan, jaringan jalan, ruang terbuka, hingga sistem infrastruktur yang menopang aktivitas manusia sehari-hari. Dalam kajian kesehatan, bahkan dipahami melalui dampaknya terhadap kualitas hidup.

 

Jika dibaca dalam konteks kota, lingkungan binaan menjadi sistem dan jaringan. Jika dibaca dalam arsitektur, lalu menjadi konfigurasi ruang dan pengalaman. Namun dalam semua variasi itu, kalau ditarik perlahan sepertinya ada satu hal yang tidak pernah benar-benar hilang: lingkungan binaan selalu berkaitan dengan sesuatu yang dibentuk manusia, yang hadir secara fisik, spasial, dan infrastruktural, serta menjadi setting kehidupan manusia. Artinya, lingkungan binaan memang bisa dibaca dari banyak disiplin. Namun tentu tidak semua hal otomatis menjadi lingkungan binaan.

 

Sebagian tetap merupakan konteks. Sebagian merupakan dampak. Sebagian lagi hanya sekadar alat. Dan di sini saya rasa kita mulai tergelincir. Kita terlalu cepat memasukkan semuanya, tanpa sempat membedakan. Masalahnya bukan pada keluasan istilah ini, melainkan pada cara kita menggunakannya tanpa batas yang jelas. Yang hilang bukan keluasan. yang hilang ialah kemampuan kita untuk membedakan. Padahal, membedakan itu bukan mempersempit. Membedakan itu justru merupakan cara paling jujur untuk memahami.

 

Maka sebelum memperluas lagi, pertanyaannya menjadi sederhana: apa yang harus tetap ada agar sesuatu masih bisa disebut lingkungan binaan? Jawabannya mungkin tidak perlu rumit. Justru karena terlalu sering dibuat rumit, kita kehilangan perihal yang paling mendasar. Lingkungan binaan bukan tentang semua hal yang berkaitan dengan manusia. Bukan tentang semua isu yang sedang berkembang. Dan bukan tentang semua pendekatan yang bisa dimasukkan.

 

Pada akhirnya, mau tidak mau, lingkungan binaan selalu kembali pada sesuatu yang tidak tergantikan: sesuatu yang benar-benar dibentuk manusia, hadir secara fisik, membentuk ruang, batas, dan sistem nyata, serta memungkinkan manusia menjalani hidup di dalamnya. Bukan sekadar ide. Bukan sekadar data. Bukan sekadar wacana. Mungkin ini terdengar terlalu sederhana.Tapi justru di situlah letak persoalannya. Tanpa itu, yang dibahas mungkin penting, mungkin relevan, tetapi bukan lagi lingkungan binaan.

 

Di sini, kita mulai dapat membedakan dengan lebih jernih: perihal sosial itu masuk dalam konteks, perihal kebijakan itu merupakan pengarah, perihal teknologi itu hanya sebagai alat Lingkungan binaan bukan semua itu. Lingkugan binaan merupakan ruang nyata tempat semua itu berlangsung. Dan justru karena itu, tidak boleh hilang. Tapi, jika semua perihal-perihal itu dimasukkan, memang terlihat luas. Namun diam-diam, kita pasti kehilangan inti.

 

Masalah terbesar kita hari ini bukan karena dunia terlalu kompleks, melainkan karena kita terlalu cepat menyebut semuanya, tanpa benar-benar memahami apa yang kita sebut. Maka mungkin, kita tidak perlu memperluas lagi. Kita hanya perlu berani mengatakan: ini lingkungan binaan, dan ini bukan. Lingkungan binaan bukan panacea. Lingkungan binaan bukan obat untuk segalanya. Melainkan hanya satu hal: tempat manusia benar-benar hidup.

 

Jika semua dianggap lingkungan binaan, maka sebenarnya tidak ada lagi lingkungan binaan.

Postingan Terakhir

Lihat Semua
Arsitektur yang Berpikir dari Arsitektur

Akhir-akhir ini, dalam diskusi kelas dan studio dengan mahasiswa, saya sering mendengar istilah yang terdengar sangat meyakinkan ketika mereka menjelaskan ide desainnya. Misalnya: biophilic architectu

 
 
 

Komentar


bottom of page