Arsitektur yang Berpikir dari Arsitektur
- Prof. Dr. Purnama Salura, Ir., M.T., MBA
- 8 Apr
- 3 menit membaca
Prof. Dr. Purnama Salura, Ir., M.T., MBA, Staf Pengajar Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan, email: purnama.salura@unpar.ac.id
Akhir-akhir ini, dalam diskusi kelas dan studio dengan mahasiswa, saya sering mendengar istilah yang terdengar sangat meyakinkan ketika mereka menjelaskan ide desainnya.
Misalnya: biophilic architecture, well-being architecture, healing architecture, bahkan quantum architecture.
Istilah-istilah ini terdengar indah, humanis, dramatis, dan tentu saja sangat menjual.
Saya sendiri sering merasa istilah tersebut terasa benar ketika pertama kali mendengarnya.
Namun di titik tertentu saya mulai menyadari satu pola kecil yang menarik:
semakin cepat sebuah konsep dijelaskan dengan satu label, semakin sedikit biasanya ruangnya dijelaskan.
Padahal, setahu saya, arsitektur justru mulai ada ketika ruang mulai dijelaskan. Bukan ketika istilah keren mulai dinyatakan.
Mengapa istilah seperti ini terasa begitu meyakinkan?
Karena narasinya sederhana, emosional, dan humanis. Seolah-olah arsitektur dapat langsung menjadi penyembuh luka batin, penghasil kebahagiaan, atau bahkan penyelaras energi alam.
Sebagian istilah tersebut memang awalnya berkembang dalam disiplin lain, lalu digunakan juga dalam diskursus arsitektur.
Biophilic berasal dari biologi. Well-being berkembang dalam psikologi. Healing berasal dari dunia kedokteran. Quantum berasal dari fisika. Istilah-istilah ini kemudian masuk ke dalam percakapan arsitektur sebagai inspirasi atau metafora.
Apakah ini salah?
Tidak selalu.
Arsitektur memang sejak lama belajar dari berbagai disiplin lain.
Namun menjadi menarik ketika fenomena ini saya lihat melalui cara membaca makna dalam arsitektur.
Dalam teori arsitektur, makna bangunan dapat dibedakan antara Makna Dasar dan Makna Tambahan.
Makna Dasar lahir dari relasi antara: tubuh manusia, kebutuhan aktivitas, struktur ruang, pelingkup yang memungkinkan aktivitas berlangsung secara stabil.
Dengan kata lain, Makna Dasar muncul ketika ruang benar-benar bekerja bagi kehidupan manusia.
Jika sebuah konsep membantu saya memahami bagaimana ruang memungkinkan aktivitas manusia berlangsung dengan lebih baik, maka konsep tersebut masih berada dalam wilayah Makna Dasar arsitektur.
Namun jika sebuah istilah hanya menjadi label konseptual tanpa menjelaskan bagaimana struktur ruang bekerja, maka cenderung menjadi Makna Tambahan.
Analoginya sederhana. Seperti memberi judul yang sangat indah pada sebuah lagu, tetapi tidak pernah benar-benar mendengarkan musiknya.
Makna Tambahan sebenarnya tidak selalu bermasalah. Sebagian Makna Tambahan justru tumbuh dari pengalaman ruang.
Misalnya: ruang yang teduh terasa menenangkan, cahaya alami memberi rasa lapang, hubungan dengan alam memberi pengalaman tertentu.
Namun dalam kasus ini, pengalaman tersebut lahir dari ruang. Artinya, pengalaman itu merupakan dampak dari ruang, bukan tujuan yang langsung dinyatakan melalui label.
Persoalan muncul ketika Makna Tambahan menjadi arbitrer, ditempelkan begitu saja pada desain.
Misalnya ketika sebuah proyek langsung diberi label: well-being, biophilic, healing, atau bahkan quantum, tanpa menjelaskan bagaimana struktur ruang benar-benar menghasilkan pengalaman tersebut.
Dalam kondisi seperti ini, makna tidak lagi tumbuh dari ruang, tetapi dipasang sebagai narasi belaka.
Di titik ini sering muncul fenomena yang menurut saya menarik: drifting disiplin.
Arsitektur perlahan bergeser ke wilayah psikologi, kedokteran, biologi, fisika metaforis, atau teori sosial, sementara ruangnya sendiri tidak lagi menjadi pusat perhatian.
Fenomena ini menjadi semakin menarik di era AI. AI sangat mahir menggabungkan istilah dari berbagai disiplin dan menghasilkan narasi yang terdengar ilmiah, humanis, dramatis, dan tentu sangat meyakinkan.
AI juga sangat pandai memilih kata yang terasa benar, meskipun hubungan hakikat antar disiplin tersebut tidak selalu dijelaskan.
Tentu ini bukan persoalan AI semata. Ini lebih menunjuk pada kecenderungan kita sebagai manusia yang mudah terpikat oleh bahasa.
Di era AI, lintas disiplin menjadi semakin mudah. Namun lintas disiplin juga semakin mudah berubah menjadi drifting disiplin.
Padahal setiap disiplin sebenarnya memiliki: objek material, objek formal, cara berpikir yang spesifik.
Dalam arsitektur, objek formalnya sejak dulu hingga sekarang tetap berkaitan dengan struktur ruang bagi keberhunian manusia.
Istilah dari disiplin lain tentu dapat menjadi inspirasi.
Namun bagi saya penting untuk selalu bertanya: Apakah makna itu benar-benar lahir dari ruang? atau hanya ditempelkan pada ruang?
Saya sendiri sering merasa terpeleset di titik ini.
Kadang arsitektur terasa paling meyakinkan justru ketika ruangnya belum dijelaskan.
Padahal kekuatan arsitektur sebenarnya bukan pada kemampuannya menggantikan disiplin lain.
Kekuatan arsitektur justru berada pada kemampuannya mengatur ruang bagi kehidupan manusia.
Perihal lintas disiplin, saya sangat setuju bahwa ini penting.
Namun lintas disiplin menjadi kuat hanya jika setiap disiplin tetap berpijak pada dirinya sendiri, bukan saling mengakuisisi.
Mungkin di situlah arsitektur justru menjadi lebih kuat:
ketika arsitektur berpikir dari arsitektur.
Catatan:
refleksi sederhana disarikan dari naskah tulisan saya tentang Titik Berangkat Proposisi Desain (TBPD) dan konsep Makna Dasar-Makna Tambahan dalam arsitektur.
5 April 2026
Komentar