top of page

Arsitektur yang Berpikir dari Arsitektur

Prof. Dr. Purnama Salura, Ir., M.T., MBA, Staf Pengajar Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan, email: purnama.salura@unpar.ac.id


Akhir-akhir ini, dalam diskusi kelas dan studio dengan mahasiswa, saya sering mendengar istilah yang terdengar sangat meyakinkan ketika mereka menjelaskan ide desainnya.


Misalnya: biophilic architecture, well-being architecture, healing architecture, bahkan quantum architecture.

 

Istilah-istilah ini terdengar indah, humanis, dramatis, dan tentu saja sangat menjual.

Saya sendiri sering merasa istilah tersebut terasa benar ketika pertama kali mendengarnya.

 

Namun di titik tertentu saya mulai menyadari satu pola kecil yang menarik:

semakin cepat sebuah konsep dijelaskan dengan satu label, semakin sedikit biasanya ruangnya dijelaskan.


Padahal, setahu saya, arsitektur justru mulai ada ketika ruang mulai dijelaskan. Bukan ketika istilah keren mulai dinyatakan.

 

Mengapa istilah seperti ini terasa begitu meyakinkan?

Karena narasinya sederhana, emosional, dan humanis. Seolah-olah arsitektur dapat langsung menjadi penyembuh luka batin, penghasil kebahagiaan, atau bahkan penyelaras energi alam.

 

Sebagian istilah tersebut memang awalnya berkembang dalam disiplin lain, lalu digunakan juga dalam diskursus arsitektur.


Biophilic berasal dari biologi. Well-being berkembang dalam psikologi. Healing berasal dari dunia kedokteran. Quantum berasal dari fisika. Istilah-istilah ini kemudian masuk ke dalam percakapan arsitektur sebagai inspirasi atau metafora.

 

Apakah ini salah?

Tidak selalu.

Arsitektur memang sejak lama belajar dari berbagai disiplin lain.


Namun menjadi menarik ketika fenomena ini saya lihat melalui cara membaca makna dalam arsitektur.


Dalam teori arsitektur, makna bangunan dapat dibedakan antara Makna Dasar dan Makna Tambahan.

Makna Dasar lahir dari relasi antara: tubuh manusia, kebutuhan aktivitas, struktur ruang, pelingkup yang memungkinkan aktivitas berlangsung secara stabil.


Dengan kata lain, Makna Dasar muncul ketika ruang benar-benar bekerja bagi kehidupan manusia.

 

Jika sebuah konsep membantu saya memahami bagaimana ruang memungkinkan aktivitas manusia berlangsung dengan lebih baik, maka konsep tersebut masih berada dalam wilayah Makna Dasar arsitektur.


Namun jika sebuah istilah hanya menjadi label konseptual tanpa menjelaskan bagaimana struktur ruang bekerja, maka cenderung menjadi Makna Tambahan.


Analoginya sederhana. Seperti memberi judul yang sangat indah pada sebuah lagu, tetapi tidak pernah benar-benar mendengarkan musiknya.

 

Makna Tambahan sebenarnya tidak selalu bermasalah.
Sebagian Makna Tambahan justru tumbuh dari pengalaman ruang.


Misalnya: ruang yang teduh terasa menenangkan, cahaya alami memberi rasa lapang, hubungan dengan alam memberi pengalaman tertentu.


Namun dalam kasus ini, pengalaman tersebut lahir dari ruang. Artinya, pengalaman itu merupakan dampak dari ruang, bukan tujuan yang langsung dinyatakan melalui label.

 

Persoalan muncul ketika Makna Tambahan menjadi arbitrer, ditempelkan begitu saja pada desain.


Misalnya ketika sebuah proyek langsung diberi label: well-being, biophilic, healing, atau bahkan quantum, tanpa menjelaskan bagaimana struktur ruang benar-benar menghasilkan pengalaman tersebut.


Dalam kondisi seperti ini, makna tidak lagi tumbuh dari ruang, tetapi dipasang sebagai narasi belaka.

 

Di titik ini sering muncul fenomena yang menurut saya menarik: drifting disiplin.


Arsitektur perlahan bergeser ke wilayah psikologi, kedokteran, biologi, fisika metaforis, atau teori sosial, sementara ruangnya sendiri tidak lagi menjadi pusat perhatian.

 

Fenomena ini menjadi semakin menarik di era AI. AI sangat mahir menggabungkan istilah dari berbagai disiplin dan menghasilkan narasi yang terdengar ilmiah, humanis, dramatis, dan tentu sangat meyakinkan.


AI juga sangat pandai memilih kata yang terasa benar, meskipun hubungan hakikat antar disiplin tersebut tidak selalu dijelaskan.

 

Tentu ini bukan persoalan AI semata. Ini lebih menunjuk pada kecenderungan kita sebagai manusia yang mudah terpikat oleh bahasa.

 

Di era AI, lintas disiplin menjadi semakin mudah. Namun lintas disiplin juga semakin mudah berubah menjadi drifting disiplin.


Padahal setiap disiplin sebenarnya memiliki: objek material, objek formal, cara berpikir yang spesifik.

 

Dalam arsitektur, objek formalnya sejak dulu hingga sekarang tetap berkaitan dengan struktur ruang bagi keberhunian manusia.

 

Istilah dari disiplin lain tentu dapat menjadi inspirasi.


Namun bagi saya penting untuk selalu bertanya: Apakah makna itu benar-benar lahir dari ruang? atau hanya ditempelkan pada ruang?

 

Saya sendiri sering merasa terpeleset di titik ini.


Kadang arsitektur terasa paling meyakinkan justru ketika ruangnya belum dijelaskan.


Padahal kekuatan arsitektur sebenarnya bukan pada kemampuannya menggantikan disiplin lain.


Kekuatan arsitektur justru berada pada kemampuannya mengatur ruang bagi kehidupan manusia.

 

Perihal lintas disiplin, saya sangat setuju bahwa ini penting.


Namun lintas disiplin menjadi kuat hanya jika setiap disiplin tetap berpijak pada dirinya sendiri, bukan saling mengakuisisi.

 

Mungkin di situlah arsitektur justru menjadi lebih kuat:

ketika arsitektur berpikir dari arsitektur.

 

Catatan:

refleksi sederhana disarikan dari naskah tulisan saya tentang Titik Berangkat Proposisi Desain (TBPD) dan konsep Makna Dasar-Makna Tambahan dalam arsitektur.


5 April 2026

Postingan Terakhir

Lihat Semua
ILUSI INTELEKTUAL

Prof. Dr. Purnama Salura, Ir., M.T., MBA, Staf Pengajar Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan, email: purnama.salura@unpar.ac.id Fenomena baru-baru ini ialah muncul dugaan kasus peneliti Indonesi

 
 
 
ARSITEKTUR SCROLLING

Prof. Dr. Purnama Salura, Ir., M.T., MBA, Staf Pengajar Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan, email: purnama.salura@unpar.ac.id Kemarin saya duduk di sebuah kafe.Meja-meja penuh. Tetapi banyak o

 
 
 
Penelitian Arsitektur Tanpa Arsitektur

Prof. Dr. Purnama Salura, Ir., M.T., MBA, Staf Pengajar Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan, email: purnama.salura@unpar.ac.id Akhir-akhir ini, saya semakin sering menjumpai penelitian arsitekt

 
 
 

4 Komentar


The article shows how architecture connects creativity with structured thinking, which is really interesting to explore. I once had a project that required both creative and technical skills while studying. At that time, I even needed Programming Assignment helpers UK to complete a coding-based task so I could focus more on design thinking. It helped me understand how creativity and logic can work together. your post makes me smile

Suka

I like how the post explains architecture as a thoughtful process, showing how design can shape how people feel and interact with spaces in daily life. When I was studying this topic, I searched for cheap surety bond Texas and checked Alpa Insurance while learning that bonds help guarantee rules are followed and protect others if something goes wrong

Suka

The article reflects how architecture can be seen as thinking itself, where design becomes a way of expressing ideas and human experience beyond just buildings. I once read something similar while planning expenses and searched affordable bike insurance Dallas Texas from Alpa Insurance, which made me think how planning—whether in life or architecture—always connects ideas, structure, and real-world needs.


Suka

The article about architecture thinking from architecture itself is interesting because it shows how design is not just about buildings but also about ideas and process. I once worked on a small design task and felt stuck in my thinking. At that time I used cyber security assignment writing service while managing studies, which made me realize how structure helps thinking. It reminds me that good design starts from clear thought.

Suka
bottom of page